Seperti muda kembali, melihatnya seakan beban masalah hanya susah bangun pagi dan mengejar nilai C saja. Mengingat -ingat lagi debaran jantung kala itu, penuh dengan rasa penasaran sekaligus deg-degan. Karena saat itu, kali pertama aku membuat hubungan sebagai manusia pra- dewasa. Pernah sebelumnya aku memiliki masa lalu, namun itu hanya sebatas cinta monyet, yang tidak ada artinya bagi memori ku.
Sepenggal cerita tentang masa lalu yang menjadi topik pembicaraan ini. Diawali oleh peralihan sebuah situs komunikasi sosial yang menawarkan banyak sekali kelebihan dibanding dengan situs terdahulu yang kebanyakan hanya berlomba- lomba menghias beranda secantik mungkin. Pada peralihan ini, banyak sekali kebingungan yang sempat saya rasakan. Mulai dari mengenal, memahami, dan menggunakannya. Beberapa waktu berselang, warung internet menjadi tempat wajibku berkunjung dalam seminggu dua kali.
Terasa sekali perkembangan yang semakin pesat, memudahkan anak muda saat itu menemukan apa dan siapa yang mereka mau. Bukan hanya menemukan saja, trend ini bisa menemukan isi hati dari orang lain. Kita bahkan tahu, dimana mereka menghabiskan akhir pekannya, kita juga tahu siapa teman dekat mereka, terutama teman spesialnya. Saat itu dalam keadaan masih labil, alat komunikasi inilah tempat ku guna mengungkapkan beban dalam hidupku, (beban sebagai anak muda).
Saat itu, usai ujian Nasional untuk sekolah menengah, dan sekaligus adalah masa-masa akhir dari masa remajaku yang akan menuju ke masa pra-dewasa. Aku habiskan hari-hari terakhir bersekolah bersama teman-teman. Salah satu dari sedikit teman baiku sedang dirundung permasalahan dengan perasaannya. Permasalahan yang sangat berat jika dilalui oleh anak muda seumuranku saat itu. Dengan ketakutan karena sudah mengawali sebuah cerita, teman baiku itu ingin kembali kekehidupan normalnya tanpa menyakiti perasaan dari orang yang ada di dalam ceritanya. Ketakutannya yang sangat tinggi, ia mengira jika ia memilih untuk menyelesaikan hubungannya, si wanita akan mengakhiri hidupnya karena sudah membuatnya patah hati. Refrensi pikiran dari temanku, berasal dari berita-berita kriminal yang dibawakan oleh bang NAPI.
Sebagai ketua kelas yang bertanggung jawab aku harus bergerak mengayomi teman-teman sekelasku yang lagi dilanda musibah, aku mendeklarasikan diri menjadi seorang visioner muda dengan berbekal ilmu dari sumber “KATANYA”
Beberapa percakapan yang penuh dengan kemungkinan -kemungkinan yang tidak pernah kita tahu, akhirnya memutuskan sebuah ide pokok dalam menyelesaikan permasalahhn itu.
Jika, tembok yang kokoh itu kehilangan satu bata dalam susunannya, lambat laun tembok itu akan roboh siring berjalannya waktu. Jika kita menganti bagian yang hilang itu, niscaya tembok kokoh itu akan tetap dengan keadaannya.
Siapa yang berhak menganti puing-puing yang hilang itu? Tanpa ada angin dan hujan, aku dipilihnya untuk melanjutkan cerita cinta itu.
“Oke” adalah jawaban ku saat diriku sedang mengemban jabatan sebagai “high quality Jomblo” predikat yang sangat gaul pada masanya. Aku catat nama akun sosial media yang sedang tren saat itu, kemudian aku menuju ke rumah kedua ku, yaitu Warnet.
Tanpa pikir panjang, aku ketikan catatan hasil dari rangkuman perdebatan anak remaja pencari cinta dan menawar cinta. Sesampainya pada catatan yang dicari, terlihat gambaran bunga dan kupu-kupu yang seolah-olah di gambar menggunakan spidol warna -warni dengan berlatar belakang hitam. Tak nampak wajah manusia. Aku mencoba mencari-cari gambaran yang aku ingini, dan fix tidak ada wajah yang terlihat. Sudahlah, aku hentikan rasa penasaranku ini. Kemudian aku menjadikannya sebagai teman dalam lingkaran dunia mayaku
Berbulan-bulan terlewati, ada sebuah nama teman sekelas sedang aktif dalam sosial media itu. Kebetulan adalah sekretaris kelasku. Saat itu aku membutuhkan beberapa informasi tentang kelas yang sedikit lagi akan kita tinggalkan.
Balasan yang tidak aku kira terlontarkan keluar. Si teman itu, tidak mengerti apa yang aku buat. Akupun bingung dibuatnya. Setelah berselang beberapa detik, aku teringat akan foto bunga dan kupu-kupu itu. Salah orang rupanya diriku. Nama yang sama membuatku salah sambung. Untuk meluruskan semuanya aku menjelaskan dengan panjang lebar kebingungan ini dan berahir dengan perbincangan yang sangat panjang. Dari arah itulah kita melanjutkan percakapan itu kesebuah telpon genggam.
Komunikasi berlanjut kepada pesan singkat dari sebuah telpon genggam. Bercerita tentang hal-hal yang sama sekali tidak ada pokok pembahasannya. Sesekali sempat bertemu disebuah lapangan olah raga kota. Sesuai dengan yang aku bayangkan dan aku sukai saat itu. Wajah sang bunga dan kupu-kupu itu melekat jelas diningatanku.
Saat itu, aku sangat suka sekali dengan seorang publik figgur yang saat itu sinetronnya sedang tayang. Kelakuan tingkah mungil dan perjuangan hidupnya dari panti asuhan membuatku jatuh cinta dengan pemerannya. Hayalan yang tipis kemungkinan terjadi, namun apa salahnya berhayal.
Kembali kelapangan yang kata dia seperti Los Angles versi kearifan lokal, kita duduk berdua di sebuah balai kota sambil menikmati malam yang remang-remang. Aku pandangi paras wajah sang bunga dan kupu-kupu itu sekilas mirip dengan pemeran sinetron yang aku gemari kala itu. Sungguh menawan hati, setidaknya hayalanku bisa aku penuhi namun dengan orang yang berbeda.
Beberapa minggu berselang, komunikasi dengan telpon genggam berlangsung lancar. Sempat ketika aku hanya iseng ingin bertemu, aku rencanakan pertemua di tempat yang sama. Maksud hati hanya bercanda, beberapa menit kemudian dia mengirim pesan menannyakan posisiku dimana. Dengan kaget aku menelpon nya, dan dengan penuh penyesalan aku meminta maaf atas keisenganku, maunya bercanda hanya terpotong terkesan becandaanku tidak seperti candaan, malah seperti nyata aku merencanakan pertemuan itu.
Lelah dengan pertemanan itu, tepat 14 februari aku memberanikan diri untuk melangkah kearah yang lebih lanjut. Aku persiapkan sebuah coklat yang terbungkus kado yang nantinya aku persembahkan untuk sang bunga dan kupu-kupu.
Sore menjelang malam, kami memutuskan berangkat kesebuah tempat yang lain dari biasanyanya. Berharap menemukan tempat yang sangat romantis dalam penentuan ini.
Deburan ombak menjadi saksi pertemuan kita. Sekian lama duduk nerdua menikmati deburan ombak yangg tak terlihat. Sudah waktunya bagiku untuk mengungkapkan isi hati ini. Aku keluarkan sebuah kado sebagai ucapan hari kasih sayang, dan tanpa pikir panjang aku mengeluarkan sebuah pertanyaan atau ajakan, bahakan sebuah rencana bersama untuk menjalin hubungan. Debar hantungku tak maunya berhenti saat itu. Apakah akan berlanjut atau terhenti diwaktu dan tempat ini.
Deburan ombak mengisi kesunyian kita malam itu. Akupun tak mampu membuat topik setelah aku mengeluarkan pernyataan itu. Diapun tak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Angin seakan menganggu dan menertawaiku atas situasi canggung ini.
Lama kesunyian itu berlangsung, dipecah oleh gerakan tangannya kemudian memberiku sebuah barang kecil seperti gantungan kunci. Terlihat 2 buah barang mungil yang ukurannya kira-kira 5 cm. Sebuah busur dan panah yang bisa di kaitkan satu sama lain.
Dia memberi ku sebuah panah dan dia memegang busurnya. Dia berharap benda ini yang akan mengikat hubungan kita. Jika kita saling berselisih paham panah dan busur inilah yang akan nantinya menjadi pengingat hubungan kita. Beberapa saat setelah itu, adalah sebuah pengalaman yang pertama kali aku alami. Tak mengerti harus melakukan apa, tapi dengan percaya diri aku melakukannya.
Itu kejadian ciuman pertama yang aku rasakkan.